Sore itu, matahari terbenam menawan, seperti biasanya. Motor Soul GT milik seorang teman yang hingga detik ini masih setia menemani melaju kencang selepas mendapat kabar bahwa seorang kawan menunggunya di Fort Rotterdam, Makassar. Yah, usai perkuliahan kami berencana mengerjakan tugas di salah satu warkop pinggiran Samata, tak jauh dari kampus. Tapi, sepertinya takdir berhaluan dan mencatatnya sebagai perjalanan yang tak terduga saat itu.
Sehingga, kita menyepakati untuk menundanya dan berharap akan menemukan waktu yang tepat. Mungkin selepas dari bertemu kawannya — ujarnya.
Motor kami terparkir tepat di pinggiran jalan, itu dikarenakan parkiran halaman tempat itu hampir penuh dengan berbagai macam kendaraan. Mulai dari motor, mobil, hingga bus pariwisata. Mungkin sekitaran ratusan kendaraan terparkir rapi di sana.
Kami menuju langsung pada titik perjanjian untuk bertemu. Tidak sulit menemukannya, sebab ada begitu banyak orang yang bisa ditempati untuk menanyakan perihal keberadaan kawannya.
Dalam perjalanan, ada begitu banyak stan yang berlomba-lomba untuk memberikan yang terbaik yang mereka punya, mulai dari stan buku, kuliner, hingga stan komunitas peduli alam. Sungguh pemandangan yang menyegarkan.
Setiba di lokasi, ruangan dipenuhi sorak tepuk tangan dari audiens, ternyata telah duduk 5 penulis luar biasa di depan ruangan didampingi seorang editor dan seorang moderator cantik sekaligus energik. Ini kali pertamanya saya melihat mereka, lumayan memberikan energi positif bagi saya kala itu. Namun sayang, kita hanya sampai pada sesi tanya-jawab. Hingga tak banyak kata-kata yang dapat kita bawa pulang. Baiknya ialah, saya masih mengingat salah satu pertanyaan sekaligus jawaban pada sesi terakhir itu, pertanyaannya kurang lebih begini "Bagaimana cara kita, sebagai seorang penulis agar tetap konsisten pada karakter tulisan kita?" dan jawaban dari salah seorang penulis tersebut ialah, "Saya tidak mencari karakter, tetapi (mungkin) karakter yang menemukan saya". Saya cukup terkesan dengan jawaban dari penjelasannya bahwa ia telah membaca banyak buku yang memiliki berbagai macam karakter dan hingga saat ini ia menulis banyak tulisan di mana karena tulisannya ia ditemukan oleh karakternya. Dan itu cukup memotivasi saya untuk menulis hari ini.
Hari semakin gelap, tapi malam semakin bersahabat kepada pengunjung yang berdatangan. Sepertinya bertemu dengan kawan-kawan baru di tempat itu membuat saya melupakan sejenak tujuan utama kami bertemu. Menuntaskan tugas yang biasa kusebut tuntutan hidup. Yah, tugas adalah salah satu kewajiban yang harus diselesaikan untuk mendapatkan apa yang kita cari, yaitu ilmu. Tapi, memikirkan begitu banyak tugas hanya akan menambah beban hidup, batinku berguman. So, mungkin ini kesempatan untuk merilekskan pikiran sejenak dan menikmati hidup, bertemu dan bersua dengan kenalan baru.
Saya duduk sambil tersenyum mengarah ke kamera sesuai instruksi seorang teman, hasilnya cukup memuaskan. Mendapatkan spot hunting foto pemburu instagram story tidaklah sulit ditemukan di salah satu kegiatan bergengsi tahunan di Kota Daeng. Oh ya, saya lupa perkenalkan kegiatan apa yang sedang berlangsung di Fort Rotterdam. Jadi, kegiatan tahunan itu bernama MIWF, yaitu Makassar International Writers Festival. Festival sastra tahunan yang diselenggarakan kali pertama pada tahun 2012 oleh Rumata' Artspace, hanya ada satu dan terbesar di Indonesia Timur.
Saya tidak dapat menuliskan banyak tentang itu, tapi satu hal yang ingin saya tuliskan dan jadikan catatan sejarah perjalanan hidupku, yaitu bertemu Reni kali pertamanya. Yah, saat itu selepas berpindah spot, saya diarahkan oleh seorang teman untuk duduk manis di rerumputan di bawah kilauan lampu led bak bintang-bintang malam yang indah. Sangat indah! Di tengah sesi foto, seorang gadis kecil berbaju hijau muda motif bunga, dengan rambut sebahu menghampiriku dari balik tenda di dekat spot berfoto. Sambil menatap matanya yang berbinar-binar, kuajukan pertanyaan hangat untuk menyapanya "hai cantik, sini, siapa namata?" lalu dengan senyumnya yang lebar dan gigi susunya yang mungil menjawab dengan tersipu malu, "Reni.". Oh, Reni nama yang indah, lalu kutanyakan lagi padanya "ayo sini, duduk sama kakak, sama siapaki datang?" Ia menjawab dengan sedikit lebih percaya diri, "sama mamaku, adekku juga" Oh, ternyata Reni kecil adalah seorang kakak. Saya sangat suka dengannya dan dia sepertinya mulai terbiasa dan mulai nyaman denganku. Kami mengobrolkan banyak hal, mulai dari hal kecil hingga cita-citanya yang sungguh mulia. Sambil memegang tangannya, kusampaikan betapa indahnya malam ini bertemu dengannya, manis sekali.
Kusadari bahwa, kita sebagai manusia dapat merencanakan apa saja yang kita inginkan tetapi, Tuhanlah perencana atas segala rencana yang telah kita rencanakan. Saya tidak menyangka bahwa rencana Tuhan akan seindah ini! Saya bersyukur untuk kesekian kalinya.
Sebagai penutup perjumpaanku dengannya, ia mengucapkan satu kalimat yang membuatku merindukan perjumpaan singkat kami, ia berbisik "Masih adaki lagi besok?"
Sambil tersenyum menatapnya dan berkata dalam hati, InsyaAllah Sayang, Semoga Allah mempertemukan kita di lain waktu. Aamiin. Dan berpisahlah kami dengan lambaian tangannya yang mungil.
Apakah Tuhan sedang merencanakan suatu kejutan lagi? Saya harap begitu.
![]() |
| MIWF - Fort Rotterdam, Makassar |

This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteInsyaAllah, Sayang.
Delete